Tentang Penulis

May 16, 2007

T. Chandra Adiwana, lahir di Medan, 17 Desember 1961. Tinggal di Jakarta, berprofesi sebagai penasehat sejumlah politikus, dan konsultan nama perusahaan dan individu.
Lulusan SD Negeri 52 Medan, SMP dan SMA Assyafiiyah Jakarta, dan Akademi Pimpinan Perusahaan Departemen Perindustrian. Pernah menjadi Bendahara Umum PB HMI, periode: 1983 – 1986, aktif di KAHMI Nasional periode 2004 – 2009. Istri Zuraidah Lubis, dan Cut Portuna Nurul Aqla.

Muhammad Haekal, lahir di Idi Rayeuk, Nanggore Aceh Darrussalam pada 11 Oktober 1980. Selain aktif pada sejumlah penelitian saat ini, sedang menjalani program pasca sarjana di Universitas Syah Kuala Banca Aceh.
Lulusan MIN 142 Idi Rayeuk, SMPN 1 Idi Rayeuk, SMAN 1 Idi Rayeuk, FMIPA Universitas Sumatera Utara, Jurusan Fisika. Semasa mahasiswa aktif di organisasi HMI dam KAM Pembaharuan. Putra dari Alm. M. Yusuf Rani dan Hj. Rosni. Saat ini tinggal di Aceh bersama ibu dan adik-adiknya Elfaizia Rahmah, El Asyura.

Erna Sari Ulina Girsang, lahir di Kabanjahe, 26 November 1977, berprofesi sebagai jurnalis, di Harian Bisnis Indonesia.
Menamatkan pendidikan formal dari SD Saint Xaverius II, Kabanjahe, SMPN I Kabanjahe, Sekolah Menengah Farmasi Apifsu Medan, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Iswan Pahala Harahap, lahir di Binjai, 25 Agustus 1980. Lulusan SDN Medan, SMPN 27 Medan, SMAN 5 Medan, FMIPA USU, IAIN Sumut, Fak. Dakwah Komunikasi Penyiaran Islam, FT USU jurusan Teknik Elektro.Semasa mahasiswa aktif pada sejumlah organisasi a.l., HMI, KAMMI, LDK, USU. Ayah, Alm. Palar Harahap, ibu Hawani Lubis, dan saudara sekandung Indra, Indomora, Isma.

Al Alawi Panggabean, lahir di Sarulla, 30 November 1982. Saat ini menjadi pegawai negeri sipil pada jajaran Departemen Perikanan dan Kelautan RI.
Menamatkan pendidikna formal dari SDN 173235 Tapanuli Utara, MTsN Padang Sidempuan, FMIPA USU. Semasa pendidikan aktif berorganisasi di HMI, KAM Pembaharuan USU. Ayahanda Alawi bernama Mawardy Panggabean, ibunda Sitti Jamilah Shb.

Mengapa Indonesia harus ganti nama?

May 16, 2007

Negara, adalah ruang bagi jiwa-jiwa yang mempunyai harapan untuk bukan sekedar hidup, namun hidup berkualitas dengan penuh harapan yang akan dapat terwujud melalui do’a yang disampaikan.

Pentingnya pemilihan nama tidak hanya berdasarkan adat-istiadat namun agama juga memandang bahwa nama harus sesuai dan mewakili jiwa penggunanya. Bahkan Tuhan sendiri menciptakan dunia ini secara langsung memberikan nama bagi tokoh yang berada di Kitab Suci atau melalui malaikatNya. Jika pemilihan nama tidak tepat dan tidak mewakili harapan yang dimiliki bagaimana do’a tersebut akan terkabul?

Mengkaji nama Indonesia tentang sudahkah tepat untuk mewakili harapan jiwa-jiwa yang berada di dalamnya, bukan berarti kita tidak mencintai negara ini dan tidak mengakui keberadaannya. Namun, lebih untuk menjadi refleksi dan kajian kembali sejarah yang telah kita lalui, mungkin saja tidak terpikirkan lagi oleh bangsa ini karena kesibukan terus menyita seluruh pikiran anak bangsa dalam berjuang membangun dan memajukan martabat bangsa di mata dunia.

Buku ini mengajak kita merenung dan berpikir apakah nama yang kita gunakan untuk menyampaikan do’a kita, sudah tepat dengan ruang atau wilayah kita tinggal. Apakah semua warga negara yang kita namakan Indonesia ini memang tepat disebut dengan Indonesia? Ada beberapa sudut pandang yang dipilih Penulis mengajak kita memikirkan kembali dan mengkaji nama Indonesia.

Selamat Tinggal Indonesia, tentu menghadirkan pengertian dan pemahaman yang mungkin kontroversi. Tapi bukan bermaksud menyetujui adanya beberapa wilayah yang ingin berpisah dari Indonesia atau beberapa warga negara Indonesia dapat memutuskan untuk meninggalkan Indonesia menjadi warga negara lain, atau hijrah ke luar negeri karena mengalami kekecewaan yang mendalam dengan tanah airnya ini.

Penulis justru menganggap itu adalah sikap ketidak-berdayaan yang sebenarnya pasti ada jalan keluar, jika ditilik secara rasional tanpa melibatkan emosi dan kepentingan pribadi. Mengapa kita harus menganggap tabu pembahasan sejarah, meskipun mungkin saja sejarah itu menuntut adanya perubahan jika dikaji dengan sejujur-jujurnya?

Buku ini mengajak seluruh warga negara untuk berpikir positif dan mengaitkan nama Indonesia, dengan jiwa-jiwa yang berada pada batas-batas wilayah tertentu yang ternyata sangat berbeda dengan maksud James R. Logan yang pertama sekali menggunakan nama Indonesia untuk menunjukkan Kepulauan Melayu. Padahal jelas Indonesia saat ini tidak termasuk semua Kepulauan Melayu, seperti Malaysia, Singapore, Papua New Guinea dan Brunei Darussalam.

Dari sejarah diputuskannya nama Indonesia oleh pejuang kemerdekaan, Indonesia merupakan simbol propaganda yang berarti tuntutan kemerdekaan dari Belanda, padahal pada saat itu semua jajahan Belanda dinamakan Hindia Belanda. Dengan populernya nama Indonesia ini, akhirnya wilayah yang dinamakan Hindia Belanda diganti namanya menjadi Indonesia pada surat kabar dan tulisan-tulisan ilmiah. Jelaslah Indonesia yang dimaksudkan pada saat itu adalah Hindia Belanda, yaitu wilayah jajahan Belanda, sementara Indonesia saat ini mencakup wilayah yang juga tidak pernah dijajah Belanda.

Ataukah mungkin hal ini yang menyebabkan beberapa wilayah dan pulau yang tidak pernah dijajah Belanda terlepas dari negara ini? Batas wilayah dan maksud dipopulerkannya nama Indonesia hanyalah satu contoh.

Lagu Indonesia Raya menjadi fakta yang otentik, bahwa negara yang seharusnya diinginkan merdeka bukan dengan nama Indonesia, melainkan nama Indonesia Raya. Wage Rudolf Supratman, seorang komponis muda Indonesia, menciptakan lagu Indonesia Raya dan mendendangkannya dengan gesekan biolanya di hadapan pemuda-pemudi bangsa ini. Ketika lagu tersebut ternyata bisa membangkitkan semangat pemuda untuk memiliki sebuah negara mandiri dan kesatuan, lagu ini menjadi lagu resmi pertemuan pemuda di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Berkumandangnya lagu Indonesia Raya memberi inspirasi kepada dr. Sutomo, yang bernama asli Subroto, melahirkan Partai Indonesia Raya pada tanggal 24 – 26 Desember 1935, merupakan penggabungan Budi Utomo dengan Persatuan Bangsa Indonesia.

Yang menarik adalah ternyata versi terjemahannya yang digagas oleh Angkatan Muda Indonesia dalam beberapa bahasa yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman, penerjemah tidak mengganti kata ‘Raya’ menjadi bahasa yang diterjemahkan, namun tetap menggunakan Indonesia Raya, seperti halnya ketentuan bahwa nama meskipun diganti dalam beberapa bahasa tetap sama. Misalnya Universitas Gadjah Mada, ketika diganti ke dalam bahasa Inggris tidak berubah menjadi Elephant Mada University, namun tetap menjadi Gadjah Mada University.

Contoh lainnya jelas bukan merupakan satu kebetulan, jika ternyata berabad-abad lamanya begitu banyak kerajaan yang hidup dan berkembang di Nusantara ini memiliki sistem atau kaidah pemberian nama secara seragam. Bagian kaidah nama ini, merupakan penelitian yang cukup panjang dari T. Chandra Adiwana.

Setelah dikaji ada tujuh ketentuan yang menjadi ciri khas penamaan kerajaan-kerajaan yang pernah ada di nusantara masa lalu. Yaitu huruf triple, huruf tengah ganda, huruf kuat di tengah nama, huruf tengah bersusun, huruf ganda yang triple atau lebih dan nama yang menunjukkan arti yang baik dan lengkap. Ketentuan ini tidak dibatasi oleh waktu, kebudayan dan agama yang menjadi prinsip berjalannya kerajaan tersebut.

Nah, lewat penelitian yang cermat, ternyata Indonesia tidak satu pun menyentuh kriteria nama tersebut. Justru nama Indonesiaraya, tidak hanya menyentuh namun menggunakan lebih dari satu kaidah nama yang ada.

Bagian yang membahas tentang Indonesia yang terindikasi sindrom Amnesia, jelas tidak bermaksud merendahkan negara ini, namun hanya sebagai bagian refleksi dan menuntut kejujuran terhadap apa yang telah terjadi di negara yang sangat kita cintai, tempat jiwa kita hidup dan raga kita akan disemayamkan.

Tapi kealpaan anak bangsa ini terhadap sejarah perjuangan dan gejolak bersifat negatif dan positif, yang tampak jelas sejak usia negara ini melewati setengah abad, seperti lupa terhadap agama, lupa saudara, lupa diri mau tidak mau menimbulkan anggapan lupa ingatan atau amnesia pada bagian-bagian negara.

Bahkan anak bangsa saat ini lupa akan sumber daya alamnya begitu besar yang dianugerahkan oleh Pencipta untuk dikelola. Amnesia yang rentan menyerang manusia di atas setengah abad, sepertinya dialami bangsa ini pula pada usianya setelah lima puluh tahun.
Selamat Tinggal Indonesia, seperti halnya kami yang mengharapkan diberi ruang untuk mewacanakan ide orisinil kami.

Pada akhir buku ini, kami juga melampirkan risalah sidang BPUPKI tentang nama Indonesia. Sidang BPUPKI ini memberikan gambaran bahwa sampai lebih dari lima puluh tahun Indonesia merdeka, nama Indonesia masih menjadi perdebatan. Meskipun di luar konstitusi resmi, nama Indonesia sudah menjadi topik diskusi hangat, walaupun cenderung masih malu-malu.

Selamat Tinggal Indonesia, bagi Penulis sendiri jadi kata yang mengharukan, namun bukan menyedihkan. Karena ‘selamat tinggal’ tidak selalu bermakna negatif. Penulis berusaha membedakan perasaan haru dan sedih, karena selamat tinggal yang berarti perpisahan, jelas memiliki makna yang lebih indah karena ada harapan di dalamnya, harapan yang disampaikan melalui do’a yang tepat.

Terakhir Penulis menawarkan nama baru yang mungkin bisa untuk dijadikan bahan kajian dan diskusi yaitu:

- Indonesiaraya dengan suku kata yang digabung-kan untuk menjadi nama Negara yang benar-benar menyatukan wilayah yang terpisah oleh ribuan pulau menjadi satu.
- Indonesia Raya dengan suku kata terpisah yang ada dalam lagu kebangsaan kita ciptaan dari Wage Rudolf Supratman.
Nusantara atau Dwipayana sebagai nama daerah/wilayah yang pernah diungkapkan sebagai nama menyeluruh yang diberikan oleh Maha Patih Kerajaan Majapahit.
Nama lain yang benar-benar baru dan bisa didiskusikan lebih lanjut dengan berpedoman pada kaidah yang ada dalam buku ini.

Sebagai anak bangsa tim Penulis memulai sampai selesai Buku Pengantar ini dengan selalu menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Penulis berharap buku yang sederhana ini sebagai wujud konkrit rasa cinta kepada bangsa dan negara ini di dalam cita-cita. Semoga seluruh harapan yang kita inginkan untuk kemajuan Bangsa dan Negara besar, dapat diwakilkan dengan nama baru di atas, sebagai salah satu bagian dari do’a kita kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.

… dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan sillaturrahim, sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”QS An Nisa (Wanita) 1

“Sungguh orang ini telah berdo’a kepada Allah dengan Nama Allah Yang Terbesar dimana Allah, tidak diminta denganNya melainkan Dia mengabulkan”
Diriwayatkan Imam Ahmad

“Biarkan dirimu ditarik secara diam-diam oleh tarikan yang lebih kuat dari apa yang benar-benar Engkau cintai” Jalaluddin Rumi

“Ajaklah anggota MPR mengikuti hati nurani, di kala harus melakukan pilihan, apakah ingin menyelamatkan kapal, atau ikut menenggelamkan? Sudah bertahun-tahun rakyat menderita oleh kesalahan sistem, sekarang marilah kita meningkat pada suatu Indonesia baru, dengan harapan baru, sistem baru, orang-orang baru” Wimar Witoelar, Menuju Partai Orang Biasa Selamat Tinggal Indonesia.

Pesan Buku

May 16, 2007

Pembelian langsung untuk saat ini hanya dapat dilakukan pada 1) Toko Buku Gunung Agung di seluruh Indonesia, 2) PT Indosurvey Pratama, d/a Plasa Gani Djemat lt. 5 Jalan Imam Bonjol No. 76-78 JAkarta 10310 Indonesia, 3) Kopersi Bisnis Indonesia, d/a Wisma Bisnis Indonesia, Jalan KH Mas Mansur No 12 A Jakarta Pusat, 10220.

Harga per buku Rp30.000,

Kata Pembuka

May 16, 2007

Buku ini merupakan karya pertama hasil keroyokan. Kendati begitu, tidak berarti pesannya merupakan pemikiran yang muncul begitu saja, saat tulisan ini mulai disusun pada Juni 2003. Karena, khususnya bagi salah satu dari Kami, pemikiran dalam buku ini sudah lama diutarakan dalam diskusi dan dialog-dialog non-formal bertahun-tahun sebelumnya.

~Selamat Tinggal “Indonesia”, Sebuah Pengantar~ begitu Kami beri nama, dengan “Indonesia” dalam tanda petik. “Indonesia” yang Kami maksud adalah nama atas wilayah dengan dinamika sosial budaya yang ada di dalamnya. Kami hendak mengajak masyarakat luas menyelami alur pikiran Kami, tentang begitu pentingnya menelaah maksud dan fungsi sebuah “nama” dalam kehidupan. Secara khusus, Kami membahas nama negara Indonesia tercinta dari aspek sejarah budaya dan wilayah yang dihubungkan dengan cita-cita perjuangan para pahlawan serta kesesuaiannya dengan realita yang terjadi dalam perjalanannya sejak merdeka.

Menurut hemat Kami, buku ini hanyalah fase pertama dari tiga fase yang Kami rencanakan. Bersama-sama, seluruh elemen bangsa berpikir dan mengkaji tentang nama Indonesia, dan apabila ternyata nama sekarang tidak baik, ataupun tidak bisa dibuktikan baik, alias terdapat unsur-unsur keraguan, maka mengganti atau merubah nama negara menjadi nama yang lebih mempunyai harapan lebih baik adalah suatu keharusan.

Dalam fase kedua, Kami mengharapkan terbentuknya suatu ‘forum’ yang akan menelaah dan mengevaluasi segala aspek tentang nama negara ini. Dan pada fase ketiga, Kami berharap hasil dari forum tersebut akan dijadikan suatu “penawaran” kepada masyarakat dan seluruh lembaga yang terkait serta Pemerintah.

Setidaknya Kami punya beberapa alasan mengapa menulis buku ini. Pertama; Kami yakin sebagian besar manusia di negara ini pasti percaya kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa, akan tetapi Kami ragu kalau seluruhya sadar dan percaya bahwa paling tidak nama mereka sendiri mempunyai pengaruh terhadap kehidupannya, apalagi sebagai do’a atau pun bisa mewakili jiwa dari dirinya sendiri.

Kedua, Kami percaya bahwa Tuhan itu Maha Mengetahui apa pun yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi, dan apabila Tuhan berkehendak; Jadi, Maka Jadilah. Dan Kami percaya, apapun yang sudah, ataupun akan terjadi di negara tercinta ini selalu berdasarkan kuasaNya, sehingga Kami yakin bahwa ada yang salah dengan harapan ataupun do’a kita, dan lebih parah lagi kalau justru kita tidak merasa pernah berharap atau berdo’a kepada Tuhan meskipun bagi diri sendiri, apalah lagi bagi negara ini.

Ketiga; kita diajari, bahwa negara yang namanya sebagai rujukan bagi nama negara kita berdasarkan penamaan yang diberikan oleh James R. Logan atau Adolf Bastian, adalah negara India. Beberapa waktu lalu, negeri Hindustan ini ingin diganti kembali namanya seperti aslinya yaitu Bharat, oleh beberapa intelektual negara tersebut karena mereka merasa bahwa nama yang sekarang ini adalah pemberian Kolonialis Inggris, saat masih menjajah, lantas bagaimana dengan para intelektual kita dalam mengambil sikap…?

Secara tehnis, penulisan buku ini mengingatkan Kami kepada Kang Jalaluddin Rakhmat dalam pengantar buku beliau, “Psikologi Agama Sebuah Pengantar”, bahwa menulis buku ilmiah tidak mudah, dan tidak menguntungkan, karena menghabiskan banyak waktu dan juga dana, di samping membutuhkan kecerdasan intelektual dan verbal. Kami pun merasa demikian. Mungkin bagi persoalan keuntungan karena menghabiskan banyak waktu dan dana adalah risiko bagi Kami untuk terjun menulis, walaupun Kami sendiri tidaklah berkecukupan. Dan untuk menentukan bahwa buku ini bisa dikatakan sebagai buku ilmiah, itu tidak mudah, karena Kami menyadari bahwa satu bagian pemikiran dari buku ini, adalah suatu ‘pengetahuan’ yang sampai saat ini belum Kami jumpai ataupun memang belum ada referensinya sama sekali, yaitu kajian ‘pengetahuan yang mempelajari nama-nama.’

Untuk tetap memasukkan pengetahuan tersebut dalam buku ini, Kami memutuskan menguji Kaidah Nama tersebut menggunakan metode penyelidikan historik. Karena, berdasarkan referensi “Pengantar Penelitian Ilmiah” karya Prof. Winarno Surakhmad, bahwa dalam penyelidikan historik, sumber data dapat diambil salah satunya dari peninggalan tak tertulis seperti adat, bahasa, dongeng, kepercayaan dan sejenisnya.

Penyelidikan Kami ini banyak menghasilkan data dari berbagai adat, bahasa, kepercayaan dan sejenisnya, juga tambahan dari beberapa fakta otentik yang sudah tercatat dalam risalah-risalah sejarah. Setelah Kami mengujinya dapat diambil kesimpulan bahwa kaidah nama yang baik atau sukses atau yang sejenisnya mempunyai pendekatan kepada kebenaran, sehingga untuk sekarang ini pengetahuan tersebut layak untuk diteruskan untuk menjadi suatu pedoman bagi penyusunan ataupun penilaian suatu nama.

Walaupun Kami mengakui kalau kaidah nama ini baru didapat pendekatan kebenarannya pada tataran hasil dengan cara pembuktian terbalik, misalnya dengan membuktikan benarkah suatu nama yang memenuhi kaidah nama tersebut adalah nama yang baik? Dengan cara mengambil nama kerajaan-kerajaan di Nusantara yang sejarahnya sudah kita ketahui dari fakta sejarah yang tertulis, kemudian nama tersebut diuji menurut kaidah nama, apabila sebagian besar dari nama tersebut memenuhi salah satu point atau lebih dari kaidah nama, maka dapat dikatakan kebenaran kaidah nama terbukti.

Tentu ini akan terkesan menyederhanakan langkah-langkah penyelidikan secara ilmiah, tetapi perlu juga diketahui bahwa pengetahuan tentang kaidah nama tersebut adalah hasil analisa empiris berdasarkan pengalaman yang sangat lama. Maka dalam hemat Kami, buku ini sedikit banyak bisa diibaratkan segelas es cendol yang beraneka isiannya, dan es disini adalah pengetahuan tentang kaidah nama-nama, walaupun tanpa es tidak akan merubah rasa dari cendol tersebut, tetapi pasti akan berpengaruh pada es cendolnya secara utuh, begitu juga dengan buku ini, apabila tidak memasukkan pengetahuan tentang nama-nama, Kami merasa kalau buku juga ini tidak utuh dan lengkap.

Kami akui bahwa buku ini masih jauh dari kesempurnaan. Kritik dan saran dari para intelektual, cendekiawan, pemuka agama dan tokoh-tokoh lainnya dalam berbagai disiplin keilmuan, tentunya demi kesempurnaan ide dalam buku ini. Sebab Kami beranggapan, wilayah pemikiran; tentang nama sebagai do’a dan mewakili jiwa bukanlah barang baru.

Buku ini juga menampilkan sejumlah tokoh nasional sebagai bahan renungan, sebagai sela. Tentu tidak seperti buku-buku sejarah di sekolah yang hanya mewajibkan siswa menghapal nama, tanggal lahir dan asal daeah pahlawan bangsa itu, kami memaparkan nilai-nilai karakter dan prilaku beliau-beliau yang mulai kabur.

Terakhir Kami ingin mengucapkan terima kasih tertinggi; kepada para Pahlawan yang telah berjuang memerdekakan negara, teruntuk Pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan istimewa bagi mereka yang ikut berjuang meluruskan kemerdekaan…

Komentar tentang Buku

May 16, 2007

“Alternatif pemikiran seperti ini, perlu dan layak diberi tempat untuk mengatasi kebekuan inteligensia masyarakat…,”
Ahmad Djauhar, Pimpinan Redaksi Bisnis Indonesia

“….di buku ini, akan kita dapat banyak hal menarik dan mungkin juga akan menjadi polekmik panjang. Tapi pasti akan menjadi kajian kita semua,…”
M. Siradjuddin Jacob, Komunikator Nasional BPP JSN 45, NRI: 1891450092

“Tulisan lima sahabat -anak-anak Medan- ini patut kita dukung sebagai wacana baru dan segar, mengingat sejarah memperbaiki nama merupakan hal biasa dalam sejarah nusantara, pesan MInangkabau “Ketek Banamo Gadabf Bagala” artinya kecil dipanggil nama, besar dipanggil gelar,”
H.M. Husni Thambrinrumi, S.H., M.H., Ketua Yayasan Nurrussabirin

Selamat Tinggal Indonesia Sebuah Pengantar

May 16, 2007

Banjir bandang di daerah wisata Bahorok Langkat Sumatera, Utara, Gempa di Nabire, gempa dan gelombang tsunami di Aceh dan Nias, pesawat Adam Air hilang berikut semua penumpangnya, semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo Jawa Timur, dan korupsi yang tidak ada habis-habisnya. Itulah Indonesia yang dialami Indonesia saat ini dan sejak beberapa tahun lalu.

Banyak solusi yang ditawarkan, komitmen SBY mengatasi korupsi, pembenahan sistem transportasi secara menyeluruh, melarang penebangan hutan secara ilegal, dzikir nasional. Tapi, bencana terus datang.

Salah satu solusi yang sangat sederhana, tapi dipandang sangat perlu oleh penulis. Karena sederhana tapi akan mengubah Indonesia secara lebih menyeluruh, yaitu mengganti nama Indonesia. Menjadi apa? Wasantara, Indonesia Raya dan nama lainnya, asal kembali kepada kaidah-kaidah nama yang pernah digunakan Maja Pahit atau kerajaan-kerajaan besar yang pernah berjaya di wilayah yang serakang di sebut Indonesia ini.

Selamat Tinggal Indonesia merekomendasikan kepada pemerintah, DPR dan rakyat agar segera mengganti nama Indonesia. Sama seperti seorang anak yang namanya diganti karena sering sakit-sakitan, Indonesia yang dilanda banyak bencana akibat ulah manusia atau alam, juga perlu mengganti nama.

Peradaban manusia Sebelum Masehi, ternyata ganti nama untuk menjadi lebih baik atau mengemban tugas khusus sudah dilakukan manusia. Bahkan pada kitab suci sejumlah agama Tuhan sendiri berperan mengganti nama seorang nabi, misalnya, sebelum memberikan tugas khusus. Misalnya Abram, yang namanya digantu Tuhan menjadi Abraham sebelum dia disebut sebagai Bapa bangsa-bangsa.

Beberapa negara sudah lebih dahulu menerapkan hal itu. Lihat saja Malaka menjadi Malaysia, Brunei menjadi Brunei Darussallam yang pada saat ini menjadi surga Asia, Tumasik menjadi Singapura.

Selain dianggap tidak tepat menyandang dana Indonesia, ada beberapa perspektif yang disampaikan penulis.

Pertama, Indonesia saat ini sangat berbeda dengan batas wilayah tertentu yang dimaksud maksud James R. Logan ketika pertama kali menggunakan Indonesia, yaitu menunjukkan Kepulauan Melayu. Padahal jelas Indonesia saat ini tidak termasuk semua Kepulauan Melayu, seperti Malaysia, Singapore, Papua New Guinea dan Brunei Darussalam.

Kedua, dengan populernya nama Indonesia sebelum 17 Agustus 1945, , akhirnya wilayah yang dinamakan Hindia Belanda diganti namanya menjadi Indonesia pada surat kabar dan tulisan-tulisan ilmiah. Jelaslah Indonesia yang dimaksudkan pada saat itu adalah Hindia Belanda, yaitu wilayah jajahan Belanda, sementara Indonesia saat ini mencakup wilayah yang juga tidak pernah dijajah Belanda.

Ketiga, lagu Indonesia Raya menjadi fakta yang otentik, bahwa negara yang seharusnya diinginkan merdeka bukan dengan nama Indonesia, melainkan nama Indonesia Raya. Yang menarik adalah ternyata versi terjemahannya yang digagas oleh Angkatan Muda Indonesia dalam beberapa bahasa yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman, penerjemah tidak mengganti kata ‘Raya’ menjadi bahasa yang diterjemahkan, namun tetap menggunakan Indonesia Raya. Seperti Universitas Gadjah Mada, ketika diganti ke dalam bahasa Inggris tidak berubah menjadi Elephant Mada University, namun tetap menjadi Gadjah Mada University.

Keempat, bukan satu kebetulan, jika ternyata berabad-abad lamanya begitu banyak kerajaan yang hidup dan berkembang di Nusantara ini memiliki sistem atau kaidah pemberian nama secara seragam. Setelah dikaji ada tujuh ketentuan yang menjadi ciri khas penamaan kerajaan-kerajaan yang pernah ada di nusantara masa lalu. Nah, lewat penelitian yang cermat, ternyata Indonesia tidak satu pun menyentuh kriteria nama tersebut.

Kelima, bagian yang membahas tentang Indonesia yang terindikasi sindrom Amnesia, jelas tidak bermaksud merendahkan negara ini, namun hanya sebagai bagian refleksi dan menuntut kejujuran terhadap apa yang telah terjadi di negara yang sangat kita cintai, tempat jiwa kita hidup dan raga kita akan disemayamkan. Tapi kealpaan anak bangsa ini terhadap sejarah perjuangan dan gejolak bersifat negatif dan positif, yang tampak jelas sejak usia negara ini melewati setengah abad, seperti lupa terhadap agama, lupa saudara, lupa diri mau tidak mau menimbulkan anggapan lupa ingatan atau amnesia pada bagian-bagian negara.

Kendati belum selalu muncul ke permuakaan, sejumlah kelompok memang sedang membahas nama Inodnesia. Pada akhir buku ini, juga dilampirkan risalah sidang BPUPKI tentang nama Indonesia. Sidang BPUPKI ini memberikan gambaran bahwa sampai lebih dari lima puluh tahun Indonesia merdeka, nama Indonesia masih menjadi perdebatan. Meskipun di luar konstitusi resmi, nama Indonesia sudah menjadi topik diskusi hangat, walaupun cenderung masih malu-malu.

Entah sebagai bonus atau sebagai penggembira, buku ini juga melampirkan nilai-nilai yang diterapkan sejumlah Pahlawan Nasional pada saat berjuang merebut kemerdekaan ataupun memperjuangkan pemahamannya. Nilai-nilai yang dijalankan para pahlawan nasional, termasuk apa yang diajarkan orang tuanya sering luput dari perhatian kita. Yang menarik, ternyata sebagian pahlawan itu pernah mengganti namanya.

Boleh mengikut. Boleh tidak. Tapi yang pasti, kita memang terus mencari celah solusi untuk mengatasi persoalan di negara kita ini kan?

Selamat Tinggal Indonesia Sebuah Pengantar

May 16, 2007

 
Judul Buku : Selamat Tinggal Indonesia. Sebuah Pengantar

Penulis : T Chandra Adiwana, Erna Sari Ulina Girsang, M. Haikal

Penerbit :Yayasan  Nurrussabirin

Tahun 1850, ahli ilmu Bangsa-Bangsa dari Inggris, James R. Logan, dalam tulisannya dalam “Journal of the Indian Archipelago dan Eastern Asia” berjudul “the Ethnology of the Indian Archipelago”, menggunakan kata Indonesia dalam pengertian geografis murni. Pada Agustus 1926, sebuah badan Internasional, yaitu Gerakan Perdamaian Sipil Internasional, di bawah pimpinan Marc Sangnier, resmi menggunakan nama Indonesia, sebagai nama sebuah wilayah. Dua tahun kemudian, semua media massa dan jurnal menggunakan kata Indonesia menggantikan Hindia Belanda, sebagai terjemahan harfiah dari Nederlands Indie.

Puncaknya, pada 17 Agustus 1945, Indonesia resmi menjadi nama sebuah negara, melalui naskah proklamasi, yang dibacanakan langsung Presiden pertama Indonesia Soekarno. Indonesia digunakan sampai saat ini dan menjadi identitas kebangsaan lebih dari 230 juta penduduk.

Pertanyaanya, apakah Indonesia yang mengantikan nama Hindia Belanda itu mewakili semua Wilayah Indonesia saat ini? Pertanyaan lain, apakah bagaimana pula dengan wilayah yang disebutkan James R. Logan tentang Indonesia? Tidakkan ada wilayan yang terarsir (iris) jika mengacu pada kawasan yang disebut dengan Jamse R Logan dengan Indonesia sebagai pengganti Hindia Belanda.

Pertanyaan ini mungkin tidak baru, karena nama Indonesia sebagai sebuah negara, sudah sering di bahas. Dari sejarah penggunaan, keabsahannya secara hukum, maupun budaya dan kebiasaan masyarakat memilih nama. Namun, pembahasan itu masih setengah-setengah atau sering kali hanya muncul menjadi satu sub bagian kecil dari sebuah topik.

Namun, buku Selamat Tinggal Indonesia, karangan T Chandra Adiwana, M. Haikal dan Erna Sari Ulina Girsang membawa pembaca merunut sejarah dan mengulas nama Indonesia secara lengkap dari beberapa sudut pandang, mulai dari sisi hukum, maupun dari sisi kebiasaan masyarakat.

Kata Indonesia muncul sekitar setengah abad sebelum tahun 1850. Pada saat itu G.W. Earl berkebangsaan Inggris menggunakan kata ‘Indunesians’ dan ‘Malayunesians’ sebutan untuk penduduk kepulauan, sebelum akhirnya memunculkannya sebagai wilayah georafis murni.  Kemudian, pada 1884, Bastian dari Jerman menggunakan kata Indonesia (Indonesien) dalam karyanya yang berjudul “Indonesien Oder Die Inseln Des Malayischen Archipels” Indonesia yang dimaksudkannya adalah kepulauan Nusantara.

Enthologist itu menyebut Indonesia sebagai rumpun Melayu sebagai satu kesatuan. Selain Indonesia saat ini, termasuk pula Malaysia, Papua Nugini dan Timor Timur.Sejak itu Indonesia lazim digunakan dalam buku-buku ilmu pengetahuan dan ilmu Bangsa-Bangsa maupun ilmu bahasa. 

Di dalam negari sendiri, Indonesia sebagai nama sebuah wilayah langsung disambut antusias oleh penduduk di wilayah itu. Betapa tidak, kata Indonesia sekaran menjadi semangat baru untuk lepas dari tirani kolonialis Belanda. Indonesia dijadikan propaganda menuntut kemerdekaan.Sebut saja, Partij Insulin pada tahun 1913, terutama oleh pimpinannya Dr. Tjipto Mangunkusumo, ikut berjuang dalam tuntutan nasional “Indonesia lepas dari Belanda”. Tahun 1922, Perhimpoenan Indonesia (PI), menggunakan nama Indonesia dalam arti politik untuk mengganti nama Hindia Belandanya kolonial Belanda.  Sekitar 1924 atau 1925 istilah Indonesia juga digunakan dan diambil oleh kaum komunis.

Selain, dari sisi sejarah munculnya nama Indonesia. Buku ini juga memaparkan hasil penelitian tentang pemilihan nama, sejumlah kerajaan yang pernah berjaya di wilayah Indonesia saat ini. Dalam rentetan sejarah selama kurun waktu kurang lebih enam belas abad, fakta membuktikan pemberian nama kerajaan di wilayah Indonesia saat ini dan sekitarnya mempunyai karakteristik yang sama.

Tapi dari sejumlah ciri-ciri itu, kata Indonesia tidak memenuhi syarat dari satu ciripun.Karakteristik itu antara lain, menggunakan tiga huruf hidup. Karateristik lainnya, jika menggunakan dua kata atau dua suku kata, biasanya kata atau suku kata kedua mempertegas kata pertama. Misalnya Majapahit. Buah Maja sudah pahit, namun dipertegas dengan kata pahit. Buku ini membahas sekitar 50 nama kerajaan yang pernah ada di Indonesia dan sektiarnya.

Perspektif lain yang dipaparkan pada buku ini tentang perlunya kita mengganti nama Indonesia, adalah lagu Indonesia Raya yang diterjemahkan keberbagai bahasa, menjelang proklamasi. Setiap terjemahannya, semua kata Indonesia Raya tidak diterjemahkan ke dalam bahasa asing itu. Ini mengindikasikan WR Supratman dan kawan-kawan memperjuangkan kemerdekaan bagi Indonesia Raya, bukan Indonesia.

Perspektif lainya, tentang makna harafian dari Indonesia yang sangat dekat dengan kata amnesia. Untuk yang satu ini bisa percaya, bisa tidak. Tapi sebelum memutuskan, pertimbangkan dengan kondisi Indonesia yang usianya semakin bertambah dengan penyakit amnesia.

Kesimpulanya, buku menganjurkan Indonesia segera mengganti namanya, karena mengganti nama untuk kebaikan tidaklah tabu. Kebiasaan masyarakat timur, orang yang sakit-sakitan sering dinilai akibat nama yang disandangnya tidak pas. Sehingga nama individu itu harus diganti.

Teori ini tidak saja berlaku bagi individu, tapi dapat juga diterapkan kepada negara yang merupakan kumpulan dari individu. Beberapa negara sudah mempraktekkan ini, dan hasilnya, sebuah negara yang lebih maju muncul. Lihat saja, Malaka yang mengganti namanya menjadi Malaysia.  Sekitar tahun 1980-an, Indonesia merupakan guru bagi Malaysia dalam berbagai disiplin ilmu.

Sekarang keadaan menjadi terbalik, Indonesia bahkan jauh tertinggal dibanding Malaysia.  Contoh lainnya, Brunei mengganti nama menjadi Brunei Darussallam yang saat ini menjadi negara surga Asia, kemudian Tumasik menjadi Singapore.

Hello world!

May 7, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.