Negara, adalah ruang bagi jiwa-jiwa yang mempunyai harapan untuk bukan sekedar hidup, namun hidup berkualitas dengan penuh harapan yang akan dapat terwujud melalui do’a yang disampaikan.
Pentingnya pemilihan nama tidak hanya berdasarkan adat-istiadat namun agama juga memandang bahwa nama harus sesuai dan mewakili jiwa penggunanya. Bahkan Tuhan sendiri menciptakan dunia ini secara langsung memberikan nama bagi tokoh yang berada di Kitab Suci atau melalui malaikatNya. Jika pemilihan nama tidak tepat dan tidak mewakili harapan yang dimiliki bagaimana do’a tersebut akan terkabul?
Mengkaji nama Indonesia tentang sudahkah tepat untuk mewakili harapan jiwa-jiwa yang berada di dalamnya, bukan berarti kita tidak mencintai negara ini dan tidak mengakui keberadaannya. Namun, lebih untuk menjadi refleksi dan kajian kembali sejarah yang telah kita lalui, mungkin saja tidak terpikirkan lagi oleh bangsa ini karena kesibukan terus menyita seluruh pikiran anak bangsa dalam berjuang membangun dan memajukan martabat bangsa di mata dunia.
Buku ini mengajak kita merenung dan berpikir apakah nama yang kita gunakan untuk menyampaikan do’a kita, sudah tepat dengan ruang atau wilayah kita tinggal. Apakah semua warga negara yang kita namakan Indonesia ini memang tepat disebut dengan Indonesia? Ada beberapa sudut pandang yang dipilih Penulis mengajak kita memikirkan kembali dan mengkaji nama Indonesia.
Selamat Tinggal Indonesia, tentu menghadirkan pengertian dan pemahaman yang mungkin kontroversi. Tapi bukan bermaksud menyetujui adanya beberapa wilayah yang ingin berpisah dari Indonesia atau beberapa warga negara Indonesia dapat memutuskan untuk meninggalkan Indonesia menjadi warga negara lain, atau hijrah ke luar negeri karena mengalami kekecewaan yang mendalam dengan tanah airnya ini.
Penulis justru menganggap itu adalah sikap ketidak-berdayaan yang sebenarnya pasti ada jalan keluar, jika ditilik secara rasional tanpa melibatkan emosi dan kepentingan pribadi. Mengapa kita harus menganggap tabu pembahasan sejarah, meskipun mungkin saja sejarah itu menuntut adanya perubahan jika dikaji dengan sejujur-jujurnya?
Buku ini mengajak seluruh warga negara untuk berpikir positif dan mengaitkan nama Indonesia, dengan jiwa-jiwa yang berada pada batas-batas wilayah tertentu yang ternyata sangat berbeda dengan maksud James R. Logan yang pertama sekali menggunakan nama Indonesia untuk menunjukkan Kepulauan Melayu. Padahal jelas Indonesia saat ini tidak termasuk semua Kepulauan Melayu, seperti Malaysia, Singapore, Papua New Guinea dan Brunei Darussalam.
Dari sejarah diputuskannya nama Indonesia oleh pejuang kemerdekaan, Indonesia merupakan simbol propaganda yang berarti tuntutan kemerdekaan dari Belanda, padahal pada saat itu semua jajahan Belanda dinamakan Hindia Belanda. Dengan populernya nama Indonesia ini, akhirnya wilayah yang dinamakan Hindia Belanda diganti namanya menjadi Indonesia pada surat kabar dan tulisan-tulisan ilmiah. Jelaslah Indonesia yang dimaksudkan pada saat itu adalah Hindia Belanda, yaitu wilayah jajahan Belanda, sementara Indonesia saat ini mencakup wilayah yang juga tidak pernah dijajah Belanda.
Ataukah mungkin hal ini yang menyebabkan beberapa wilayah dan pulau yang tidak pernah dijajah Belanda terlepas dari negara ini? Batas wilayah dan maksud dipopulerkannya nama Indonesia hanyalah satu contoh.
Lagu Indonesia Raya menjadi fakta yang otentik, bahwa negara yang seharusnya diinginkan merdeka bukan dengan nama Indonesia, melainkan nama Indonesia Raya. Wage Rudolf Supratman, seorang komponis muda Indonesia, menciptakan lagu Indonesia Raya dan mendendangkannya dengan gesekan biolanya di hadapan pemuda-pemudi bangsa ini. Ketika lagu tersebut ternyata bisa membangkitkan semangat pemuda untuk memiliki sebuah negara mandiri dan kesatuan, lagu ini menjadi lagu resmi pertemuan pemuda di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Berkumandangnya lagu Indonesia Raya memberi inspirasi kepada dr. Sutomo, yang bernama asli Subroto, melahirkan Partai Indonesia Raya pada tanggal 24 – 26 Desember 1935, merupakan penggabungan Budi Utomo dengan Persatuan Bangsa Indonesia.
Yang menarik adalah ternyata versi terjemahannya yang digagas oleh Angkatan Muda Indonesia dalam beberapa bahasa yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman, penerjemah tidak mengganti kata ‘Raya’ menjadi bahasa yang diterjemahkan, namun tetap menggunakan Indonesia Raya, seperti halnya ketentuan bahwa nama meskipun diganti dalam beberapa bahasa tetap sama. Misalnya Universitas Gadjah Mada, ketika diganti ke dalam bahasa Inggris tidak berubah menjadi Elephant Mada University, namun tetap menjadi Gadjah Mada University.
Contoh lainnya jelas bukan merupakan satu kebetulan, jika ternyata berabad-abad lamanya begitu banyak kerajaan yang hidup dan berkembang di Nusantara ini memiliki sistem atau kaidah pemberian nama secara seragam. Bagian kaidah nama ini, merupakan penelitian yang cukup panjang dari T. Chandra Adiwana.
Setelah dikaji ada tujuh ketentuan yang menjadi ciri khas penamaan kerajaan-kerajaan yang pernah ada di nusantara masa lalu. Yaitu huruf triple, huruf tengah ganda, huruf kuat di tengah nama, huruf tengah bersusun, huruf ganda yang triple atau lebih dan nama yang menunjukkan arti yang baik dan lengkap. Ketentuan ini tidak dibatasi oleh waktu, kebudayan dan agama yang menjadi prinsip berjalannya kerajaan tersebut.
Nah, lewat penelitian yang cermat, ternyata Indonesia tidak satu pun menyentuh kriteria nama tersebut. Justru nama Indonesiaraya, tidak hanya menyentuh namun menggunakan lebih dari satu kaidah nama yang ada.
Bagian yang membahas tentang Indonesia yang terindikasi sindrom Amnesia, jelas tidak bermaksud merendahkan negara ini, namun hanya sebagai bagian refleksi dan menuntut kejujuran terhadap apa yang telah terjadi di negara yang sangat kita cintai, tempat jiwa kita hidup dan raga kita akan disemayamkan.
Tapi kealpaan anak bangsa ini terhadap sejarah perjuangan dan gejolak bersifat negatif dan positif, yang tampak jelas sejak usia negara ini melewati setengah abad, seperti lupa terhadap agama, lupa saudara, lupa diri mau tidak mau menimbulkan anggapan lupa ingatan atau amnesia pada bagian-bagian negara.
Bahkan anak bangsa saat ini lupa akan sumber daya alamnya begitu besar yang dianugerahkan oleh Pencipta untuk dikelola. Amnesia yang rentan menyerang manusia di atas setengah abad, sepertinya dialami bangsa ini pula pada usianya setelah lima puluh tahun.
Selamat Tinggal Indonesia, seperti halnya kami yang mengharapkan diberi ruang untuk mewacanakan ide orisinil kami.
Pada akhir buku ini, kami juga melampirkan risalah sidang BPUPKI tentang nama Indonesia. Sidang BPUPKI ini memberikan gambaran bahwa sampai lebih dari lima puluh tahun Indonesia merdeka, nama Indonesia masih menjadi perdebatan. Meskipun di luar konstitusi resmi, nama Indonesia sudah menjadi topik diskusi hangat, walaupun cenderung masih malu-malu.
Selamat Tinggal Indonesia, bagi Penulis sendiri jadi kata yang mengharukan, namun bukan menyedihkan. Karena ‘selamat tinggal’ tidak selalu bermakna negatif. Penulis berusaha membedakan perasaan haru dan sedih, karena selamat tinggal yang berarti perpisahan, jelas memiliki makna yang lebih indah karena ada harapan di dalamnya, harapan yang disampaikan melalui do’a yang tepat.
Terakhir Penulis menawarkan nama baru yang mungkin bisa untuk dijadikan bahan kajian dan diskusi yaitu:
- Indonesiaraya dengan suku kata yang digabung-kan untuk menjadi nama Negara yang benar-benar menyatukan wilayah yang terpisah oleh ribuan pulau menjadi satu.
- Indonesia Raya dengan suku kata terpisah yang ada dalam lagu kebangsaan kita ciptaan dari Wage Rudolf Supratman.
Nusantara atau Dwipayana sebagai nama daerah/wilayah yang pernah diungkapkan sebagai nama menyeluruh yang diberikan oleh Maha Patih Kerajaan Majapahit.
Nama lain yang benar-benar baru dan bisa didiskusikan lebih lanjut dengan berpedoman pada kaidah yang ada dalam buku ini.
Sebagai anak bangsa tim Penulis memulai sampai selesai Buku Pengantar ini dengan selalu menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Penulis berharap buku yang sederhana ini sebagai wujud konkrit rasa cinta kepada bangsa dan negara ini di dalam cita-cita. Semoga seluruh harapan yang kita inginkan untuk kemajuan Bangsa dan Negara besar, dapat diwakilkan dengan nama baru di atas, sebagai salah satu bagian dari do’a kita kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.
… dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan sillaturrahim, sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”QS An Nisa (Wanita) 1
“Sungguh orang ini telah berdo’a kepada Allah dengan Nama Allah Yang Terbesar dimana Allah, tidak diminta denganNya melainkan Dia mengabulkan”
Diriwayatkan Imam Ahmad
“Biarkan dirimu ditarik secara diam-diam oleh tarikan yang lebih kuat dari apa yang benar-benar Engkau cintai” Jalaluddin Rumi
“Ajaklah anggota MPR mengikuti hati nurani, di kala harus melakukan pilihan, apakah ingin menyelamatkan kapal, atau ikut menenggelamkan? Sudah bertahun-tahun rakyat menderita oleh kesalahan sistem, sekarang marilah kita meningkat pada suatu Indonesia baru, dengan harapan baru, sistem baru, orang-orang baru” Wimar Witoelar, Menuju Partai Orang Biasa Selamat Tinggal Indonesia.